Kamis, 09 Oktober 2008

TEMAN PERJALANAN

Oleh: Rois*
Sesekali aku melihat ke sepion motorku. Bukannya untuk melihat apakah ada motor atau mobil yang akan menyalip. Tapi hanya untuk melihat wajahmu. Sengaja aku arahkan sepion ini menghadap kewajahmu biar aku dapat memandangimu. Biarlah wajah elokmu menghiasai kaca sepionku. Tapi terkdang kamu sendiri yang merasa malu. Merasa aku perhatikan, kaca sepionpun kamu adapkan ke bawah. Dan dengan senang hati aku hadapkan lagi kewajahmu. Indah sekali. Apalagi ketika kamu tersenyum tersipu dan matamu menatap mataku melalui kaca sepion itu, hampir-hampir saja aku menabrak mobil yang ada didepanku. Sungguh.

Sudahlah biarkan saja kaca sepion ini memantulkan kemilau keindahan. Keindahan yang tidak setiap hari aku rasakan. Walau kacanya agak buram, tatap saja terasa pancaran wajahmu itu. Dengan degub yang sengaja aku jaga iramanya, dengan sesekali menahan nafas untuk mengatur kembali nafas, kita sama-sama ingin menyatukan ingin dan rasa ini.

Dalam perjalanan ini rasanya perbincangan tidaklah penting. Aku merasa perbincangan hanya akan membuyarkan konsentrasiku menikmatimu. Biarlah hati kita yang saling berkomunikasi. Kata orang ketika kita sedang dekat dengan seseorang, kata hati lebih tajam dan lebih peka dalam mengurai ingin kita.

Tidak mau aku berkata padamu. Bukannya aku tidak ingin atau tidak suka padamu. Bukannya tidak mau aku merayumu, dengan kata-kata yang indah atau dengan cerita konyol atau dengan puisi cinta layaknya seorang yang lagi kasmaran. Tidak ingin pula aku mendiskusikan persoalan kehidupan ini padamu. Persoalah yang menjerat segala kesenangan kita. Biar persolan itu aku buang jauh-jauh. Jauh di pedalaman desa yang tandus, biar persoalan itu ikut mengering dan hilang ditelan tanah yang merekah. Sengaja aku diamkan kamu, biarlah kamu seperti itu, tersipu malu dalam kaca sepion yang kemudian kamu bengkokkan kebawah.

Bukannya lidah ini kelu atau rasa ini telah meradang. Tapi aku tidak mau melenceng dengan rasa ini. Ahirnya kata hanya menjauhkan dari apa yang aku rasakan. Aku tidak ingin teman perjalananku ini hilang begitu saja seperti yang lain.

Dulu sebelum kamu menemaniku dalam perjalanan dengan motor ini, aku sering sekali melamun. Ada apa di ujung dari perjalanan ini. Apakah perjalanan ini ada akhirnya. Sampaikah aku pada tujuanku. Atau hanya akan berahir dalam perjalanan ini. Akan ada apa di jalan raya yang aku lewati itu. Ah, entahlah, aku hanya bisa menduga. Dan hanya meraba-raba. Pernah sekali aku merasakan hawatir tidak akan sampai pada tujuan. Dan hanya di jalan raya itu aku berhenti, untuk mengahiri sebuah perjalanan ini. Tapi kehawatiran itu pupus sesampainya aku ditempat tujuan.

Bedanya dulu, dalam kesendirianku itu, aku coba untuk bercengkrama dan bercakap-cakap dengan seseorang entah siapa. Yang penting aku tidak kesepian. Di jalan raya yang rame itu, manusia bisa mati mendadak hanya gara-gara rasa sepi itu. Dan aku tidak ingin yang seperti itu. Ahirnya aku ciptakan kawan dalam perjalannku. Pernah ada seorang profesor yang mendampingiku, pernah juga ada seorang Dai kondang yang menceramahi aku disepanjang jalan. Sampai-sampai banyak orang melongo melihat diriku yang berbicara sendiri ketika berhenti di lampu merah.

Pernah juga aku ciptakan seorang nara pidana yang mau melarikan diri. Dia ingin lari dari hukuman mati. Minta aku untuk melarikannya kemanapun terserah yang penting selamat dari jeratan hukum.

Dalam kesendirianku, aku tidak tahu siapa lagi yang akan menumpang di motorku ini. Baik atau buruk orang itu. Memang bukan pekerjaan yang enak membawa orang yang tidak tahu asalnya. Kadang aku juga merasa jengkel ketika aku menciptakan sediri seorang kakek tua yang mau bertemu dengan cucunya. Dia takut kalau aku ngebut. Tapi dia juga tidak mau kalau dia terlambat di acara ulang tahun cucunya. Sungguh sangat membingungkan. Yang akibatnya membuat aku mual dan mutah diahir tujuan.

Ada juga kisah sedih ketika aku memboncengkan seorang yang mau melahirkan. Siapa yang sangka kalau seorang ibu yang mau melahirkan dijalan mau aku ajak menuju rumah sakit bersalin hanya dengan menggunakan roda dua. Dan belum sampai di rumah sakit si ibu itu sudah melahirkan di jok motorku. Bingung rasa ini, mau aku apakan bayi itu. Untung mereka berdua selamat. Walau ibunya sempat pingsan. Di trotoar jalan raya aku berhenti dan menjaga keduanya. ahirnya aku hanya menjadi tontonan orang yang lewat. Tidak ada seorang pun yang melihat bahwa ada seorang yang melahirkan dan harus segera ditolong, mereka memandangiku dengan pandangan yang aneh dan heran mengapa aku ini. Teriak-teriak sendiri. Dan setelah sang ibu itu seiuman aku antarkan sampai rumah sakit bersalin. Dan hilanglah dia. Layaknya teman-temanku yang lain. Hilang begitu saja.

Dalam perjalananku berkendaraan dulu, juga pernah aku merasakan bagaimana kedua roda motorku itu saling pukul. Bukannya protes dengan berat badanku atau tidak mau ada penumpang lain di motor ini. Tapi mereka tidak mau ada yang kalah. Ingin sekali semua didepan. Saling mendahului kalau ada yang kalah berarti harus dikempeskan dan dibuang. Aneh sekali kedaan waktu itu. Motor yang biasanya aku naiki dengan rasa aman dan penuh keceriaan, berubah menjadi pertarungan yang sengit berebut menjadi yang didepan. Roda-roda itu ahirnya patah dan tidak ada yang menjadi juara. Ahirnya aku buang ke pengepul barang rongsok. Apa boleh buat ahirnya aku cari roda yang baru lagi.

Dan aneh juga ketika suatu ketika roda motorku tidak mau lagi berputar. Bukannya gir atau rantainya putus. Benar-benar mereka ngambek dan tidak mau berputar lagi. Dan ahirnya tidak ada lagi irama naik turunnya lingkaran roda yang menghasilkan sebuah gerak yang enak untuk dinikmati. Mereka merasa takut berada ketika dibawah. Berada pada posisi yang paling tidak mengenakkan bagi mereka, posisi yang tertindas dan menjadi tumpuan berat motor dan penumpangnya. Mereka merasa takut dan bosan ketika bertemu dengan panasnya aspal, bertemu dengan baunya kotoran kuda atau kotoran kambing. Atau bertemu dengan batu-batuan tajam. Lebih-lebih ketika mereka memikirkan masa depannya. Sungguh aneh pikirku. Mereka meraska kalau dibawah nanti tidak ada kelanjutan dari hidup mereka. Mereka akan semakin tipis dan dibuang. Tidak ada lagi kebanggan menjadi sebuah roda kata mereka. Tapi dengan segala rayuan dan bujukanku ahirnya mereka mau lagi berputar, dan mau berusaha kembali menapaki setiap jalan yang akan aku lalui.

Tapi anehnya dalam setiap perjalan aku sulit sekali menciptakan sesosok teman perempuan. Atau kalau bisa ya tidak akan lama, dan selalu sebentar saja menemaniku. Ingin sekali aku bercengkrama panjang lebar dan berbagi pengalaman dengan sosok yang harum dan tidak rewel seperti kebanyakan temanku tadi. Sukur-sukur mau untuk aku jadikan pasangan hidup. Tapi Setiap kali aku mendapatkan teman perempuan itu pasti tidak lama betah membonceng di belakang. Tidak tahu mengapa. Biasanya alasan yang sering sekali aku dengar karena sudah sampai tujuan, walau aku tahu bahwa dia itu bohong, atau paling tidak merasa sudah ada tumpangan yang lain yang lebih nyaman. Dan rela melompat dari boncenganku. Padahal masih dalam keadaan ngebut di jalan raya. Ahirnya aku putuskan untuk tidak lagi membuat tokoh perempuan. Capek aku dibutnya. Walau harum dan tidak rewel tapi malah membikin dongkol dan kecewa hati ini. sayang sekali.

Dan siang itu sekitar jam dua, setelah aku mengantarkan seorang teman. Seorang teman kecil yang ingin sekali ke kebun binatang. Katannya mau melihat macam-macam binatang yang lucu-lucu dan unik. Mendadak aku menemukan dirimu, tersenyum padaku. Tersentak aku dengan senyuman itu. Aku tidak menyangka senyuman itu layaknya percikan bara api yang membakar seluruh rimba hati ini. Hati yang dulunya dihuni semak belukar menjadi membara dibakar api. Entah api apa ini namanya. Kobran api ini tidak menghanguskan atau melelehkan segala isi rimba itu. Tapi ada satu biji yang tersisa. yang anehnya biji itu tidak hangus tapi makin menjadi subur dan bisa membentuk oase di dalam kobaran api. Bayangkan, sepercik senyum yang menghidupkan.

Seorang bidadarikah, manusiakah, atau jangan-jangan tidak kedua-duanya. Wajahnya yang sedikit lonjong, kulit putih, rambut lurus hitam mengkilat. Dan mata itu. Ya mata yang selama ini aku impikan. Sendu agak sipit. Dan lentik bulu mata yang menusuk mata yang memandangnya. Aku yakin ini tidak mimpi. Dan aku pastikan pula pada diriku, tidak mungkin bidadri turun ke bumi ini hanya untuk menemuiku. Aku raba lagi ingatanku. Masih sadarkah aku atau sudah hilang dalam lamunan.

Aku berhenti sejenak memandang dan membalas senyumannya. Berawal dari keheningan itulah aku merasa ada makna yang merasuk dalam kalbuku itu. Isyarat yang terbalas dengan indahnya sambutan hangat. Dan luar biasa dia mau aku ajak berboncengan. Tidak takutkah kulitmu yang putih terkena debu dan panasnya matahari tanyaku dalam hati. Yang penting kamu mau menemaniku dalam perjalanan ini.

Dalam hati aku berkata mimpi apa aku semalam. Tidak perlu lagi aku membuat teman rekaan yang menemaniku dalam berkendaraan. Aku sudah ada yang menemani seorang bidadari cantik yang wajahnya dapat aku lihat melalui kaca sepion. Jantung ini berdetak kembali. Dan aku putuskan tidak akan membicarakan yang macam-macam. Aku takut seperti teman rekaan perempuanku yang selalu saja meloncat dari motorku.

Aku jaga hati-hati pertemuan ini, dan agar tidak menyinggung perasaannya. Jangan sampai dia berbohong mengatakan sudah sampai tujuan dan membiarkan aku sendiri melanjutkan perjalanan ini. Tapi aku yakin ini nyata tidak lagi rekaanku. Mana mungkin mau lari atau meloncat dari motor. Apalagi lalulintas siang itu sangat rame.

Lama sekali kita saling diam dan saling pandang. Tapi hati ini serasa komunikasi dengan sendirinya. Tidak tahu sampai mana arah tujuanku ini, aku putar-putar saja menuruti laju motor ini. Rencananya ingin sekali aku ajak dia mampir ke rumahku dan menginap barang satu hari untuk lebih lanjut kita kenalan.

Karena sangking senangnya dan bahagianya hati ini, aku ajak muter lagi walau sudah sampai depan rumah. Aku pamerkan pada mereka yang selama ini mengejekku. Teman-temanku yang sudah menikah, atau tetangga sebelah. Aku sengaja lewatkan bengkel Lek Kardi, tempat para teman-temanku nongkrong. Aku putar lagi lewat pasar pusat para temanku bekerja. Aku putar lagi motor ini aku ajak untuk mengunjungi tempat yang paling indah di kota ini. Sungguh berartinya hari ini. Dan kamu hanya senyum dan tersipu malu dibelakang.

Dan ketika hari sudah beranjak sore, ketika lapangan penuh dengan orang yang sedang menonton pertandingan sepak bola, aku sengaja lewatkan motor ini ditengah-tengah lapangan. Gila memang. Tapi aku merasa bahagia. Tidak ada rasa malu atau merasa bersalah membuat orang yang bermain marah-marah atau para penonton yang melempariku dengan botol air mineral. Aku tetap saja tenang dan aku lihat dirimu masih setia menemaniku dibelakang.

Sampai saat ketika sudah beberapa bulan aku mengenalmu, dan aku yakin bahwa kamu adalah perempuanku, aku beranikan diri untuk meminang ke keluargamu. Aku yakin kamu juga setuju dengan keputusanku. Aku putuskan untuk mengajak orang tuaku ke rumahmu. Dengan segala persiapan dan syarat yang harus aku penuhi, ahirnya aku dan kamu jadi menikah. Sengaja aku adakan pesta pernikahan dirumahmu. Sesuai dengan permintaanmu. Dengan alasan untuk menghemat biaya. Perayaan yang selama ini aku impikan terlaksana juga. Keluarga, teman, saudara semua ikut bahagi dalam pesta perkawinan kami. Semua memberikan selamat dan juga ikut bersyukur.
Dan setelah perayaan pernikahan ini selesai, dan semua keluargaku harus pulang, ternyata semua hanya bisa berputar-putar di kampungmu ini. Tidak ada yang bisa keluar.
(Krapyak ’08)
* Orang biasa yang tidak akan lupa dengan AMANAT.

Selasa, 19 Agustus 2008

UNTUK BURUH

Saat keluar…
Darah dan air mata dan
Saat benar-benar kau cambuk tubuh ini
Dengan lengkingan suara memerintah
Tak terasa kulit yang hitam ini mengeluarkan darah
Darah segar dengan daging yang menganga
Pedih menjulur meminta aku untuk teriak
Saling teriak yang tak nyenyak

Lagi kamu cambuk
Mengukur darah ini menggenang
Mengaliri sawah dan membasahi benih padi yang hampir mati
Tindih menindih menular keluar

Ah bilur biru yang mengering
Merubah kering jadi kukusan embun segar
Melebar menjadi subur igau masa datang

Tepi igau kau terkapar kelaparan
Mencari jejak-jejak penguasa
Serasa ingin sekali kau bersujud dikakinya

Sudah lupakah kamu tentang diriku
Antara hidup dan mati
Mengaduh tanpa kau sadari
Merapal kata demi kata
Mendoakan dirimu, sawahmu, dan juga keluargamu

Oh manis sekali
Bilur-bilur kuning padi
Menambal luka-luka diri
Menyantuni diri demi ilusi besok pagi

Angan

Angan

Tertutup sudah langit itu
Terbukanya hati adalah
Terbukanya langit

Langit sudah menjadi miliknya
Sudi atau tidak adalah urusannya
Tidak ada yang berkuasa
Mereka berseru merdeka..
Atau malah berkabung sengsara.

Sukur

Coba dendangkan rasa sakitmu
Dengan keceriaan tentunya
Jangan biarkan semu membelenggu
Tinggalkan saja
Biarlah luka
Biarlah sahaja
Mulai saja berlalu

Selasa, 06 Mei 2008

AWAS KORUPSI



Pagi itu seorang perempuan setengah baya mendadak marah-marah setelah membaca koran pagi ini. Apa sebab, ternyata dalam koran tersebut diberitakan tentang tertangkapnya koruptor negara senilai Rp. 11 M. tak ayal segala umpatan kemarahan dia keluarkan, yang intinya menghujat koruptor tersebut. Bagaimana negara ini mau maju wong rakyatnya sendiri banyak yang tidak menghargai bangsanya sendiri, pantas saja negara ini jadi hancur, dari tukang palak legal sampai yang illegal semua ada, korupsi ada dimana-mana, sampai-sampai orang yang makan nasi aking hanya menjadi tontonan yang layak dipertahankan, sebagai aset dan sebagai alasan para koruptor untuk menaikkan anggaran belanja mereka. Mungkin tidak hanya perempuan itu yang jengkel atas perilaku koruptor tersebut, kita semua pun memiliki perasaan yang sama. Apalagi ketika melihat ternyata semua lembaga pemerintahan dalam negara ini berlomba-lomba dalam menaikkan angka korupsinya, sampai-sampai lembaga keagamaan yang dinilai lembaga yang tersuci menjadi ladang paling korup di negara ini.

Itulah gambaran dimana sifat selenco dari manusia menguasai, tidak tanggung jawab, tidak menghiraukan amanat, tidak memaknai kekuasaan sebagai tanggung jawab yang harus dilaksanakan dengan sebenar-benarnya.

Dalam Islam dijelaskan bahwa kita semua adalah pemimpin yang akan ditanyakan atas kepemimpinan kita, minimal kepemimpinan atas diri kita sendiri. Orang kaya akan ditanyakan kekayaannya, dari mana didapat dan kemana kekayaan itu di tasarufkan, orang pintar di tanyakan kemana kepintarannya disalurkan, berbuah kebaikan atau hanya sebatas sebagai provokasi yang berbuah pada bencana. Orang miskin ditanyakan sudah sabarkah mereka atas kemiskinannya, artinya sudah berusahakah mereka untuk merubah kemiskinannya, orang yang berkuasa ditanya dibuat apa kekuasaannya sudah berbuat adilkah mereka dengan kekusaannya, orang yang dipimpin ditanyakan sudah berbaktikah mereka pada pemimpinnya. Semua akan dipertanyakan. Sampai seorang supporter sepakbola juga akan ditanyakan atas tindakannya. Yang ahirnya orang amalnya baik walau sebiji sawi akan dimasukkan surga dan yang amalnya jelek akan dimasukkan neraka dan tidak ada tawar menawar ketika itu, apalagi bisa menyuap, semua akan merasakan keadilan yang seadil-adilnya dari Dzat yang Maha Adil.

Sungguh sebuah akhir yang menyenangkan bila kita memiliki deposito amal kebaikan diahir khisab kita. Dan sunggung sangat merugi bagi kita yang sudah banyak beramal baik tapi ternyata habis dibuat menambal hutang kita di dunia. Hutang pada sesama yang sudah kita sakiti, dengan mengambil hak-hak mereka atau memberikan bencana pada mereka.

Kita semua sebenarnya sudah diberi kedudukan sendiri-sendiri di dunia ini, dengan maksud supaya dapat berbagi dan menyalurkan kemanfaatan bagi sesama manusia untuk memakmurkan bumi ini, juga sebagai bukti bakti kita pada Allah. Kemanfaatan yang di maksud bukan hanya berbentuk materi semata melainkan segala sesuatu menjunjung tinggi rasa kebersamaan dan rasa kasih sayang di dunia ini. sehingga menjadikan kedudukan itu sebagai wasilah untuk menuju dzat yang paling agung dan bukan tujuan itu sendiri. (Rosi Stewart)

MAYDAY DAN HAK POLITIK BURUH


Oleh: Rois Ahmed Setiawan

Peringatan Hari Buruh yang bertepatan tanggal 01 Mei, atau biasa disebut dengan Mayday, bukan merupakan sesuatu yang baru bagi kita. Banyaknya buruh di Indonesia, menjadi hal yang wajar jika bangsa ini ikut memperingatinya. Walaupun hari besar buruh ini masih terreduksi di dalam buruh yang sifatnya formal, dan belum sampai pada buruh yang sifatnya non formal, seperti yang bekerja di tambal ban, foto copy, maupun buruh yang bekerja di toko-toko biasa.

Memperingati kembali hari kebangkitan kaum pekerja ini, merupakan salah satu upaya untuk melihat kembali bersatunya para buruh dalam memperjuangkan hak mereka. Hak untuk bekerja, istirahat dan bersosialisasi (berpolitik) layaknya manusia pada umumnya. Dan juga bersatunya kelas yang pada waktu itu dianggap tidak ubahnya dengan budak yang hanya diambil keringatnya saja. Tanpa mempedulikan sisi kemanusiaannya.

Perayaan mayday ini, berawal dari momentum keberhasilan perjuangan dari para buruh. Tahun 1884, The Federation of Organized Trades and Labor Unions telah menyebarkan resolusi untuk menetapkan 8 jam sehari sebagai waktu kerja yang sah, mulai tangga 0l Mei 1886. Ini menjadi tungak awal kemenangan bagi para buruh yang dulunya buruh harus bekerja 10-14 jam perharinya.

Di Indonesia sendiri banyaknya kasus tentang penindasan dan penganiayaan terhadap buruh masih saja terdengar ditelinga kita. Tidak hanya buruh yang ada di kelas bawah, tapi hampir semua kalangan buruh merasakan, khususnya buruh disektor formal. PHK masal di satu perusahaan, upah murah, status kerja, diskriminasi gender, dan ditambah lagi banyaknya kasus buruh TKI yang dianiaya majikannya sampai meninggal. Menunjukkan masih suramnya dunia perburuhan di Indonesia.

Ini menyisakan beberapa pertanyaan yang harus segera dijawab. Mengapa kesejahteraan masyarakat kususnya buruh masih sulit terealisasikan? Mengapa harus dengan cara “kekerasan” dalam merebut kesejahteraan itu? Dan dimana peran pemerintah dalam melakukan perlindungan? Mengapa kelas terbanyak ini tidak memiliki daya tawar?. Dan masih banyak lagi sederet pertanyaan yang sangat panjang untuk dijawab, dan terlalu panjang pula jika hanya perjuangan buruh yang untuk menjawab itu semua.

Permasalahan yang harus dihadapi kaum buruh sangat banyak. Baik permasalahan yang muncul dari internal buruh sendiri maupun yang datang dari luar (baca pemerintah dan pengusaha). Melihat kondisi internal buruh saat ini sangat kurang menguntungkan. Adanya PHK sepihak, upah murah, mengakibatkan serikat buruh yang sebagai representasi dari buruh, makin tidak ada anggotanya. Belum lagi permasalahan-permasalahan internal yang lain, seperti masalah antar Serikat Buruh yang masih terfragmentasi, atau masalah yang dimiliki masing-masing individu buruh.

Sehingga posisi buruh semakin lemah dan kurang mendapat perhitungan lagi, dimata pengusaha maupun pemerintah. Bahkan setiap melakukan aksi masa, selalu gagal dan hasilnya tidak seperti yang diinginkan. Karena sibuk terhadap kondisi internal ini pula yang menyebabkan buruh baik tingkat lokal, nasional menjadikan kurang kebersamaannya.

Sedang tantangan yang datang dari kondisi ekternal buruh adalah menyangkut hukum dan perundang-undangan yang berhubungan dengan perburuhan. Salah satu produk kebijakannya adalah UU. No. 13/2003. Kaitannya dengan kepentingan gerakan buruh adalah pasal yang berkenaan dengan hubungan kerja, di mana pengusaha diijinkan memberlakuan status kerja kontrak dan outsourcing.

Adanya ketentuan ini maka buruh tidak lagi mempunyai jaminan keberlangsungan kerja. Karena pola hubungan kerja yang demikian rentan akan pemecatan. Dan relasi buruh yang demikian akan sangat berpengaruh terhadap keanggotaan serikat buruh dan tingkat perjuangan buruh. Ditambah lagi dengan pelanggaran-pelanggaran yang ada di perusahaan yang tidak ada tindakan dari pemerintah.

Masalah lain yang tidak kalah pentingnya adalah persoalan perburuhan belum menjadi persoalan sosial. Persoalan perburuhan hanya menjadi hak milik dari buruh itu sendiri, dan menjadi terasing ditengah isu-isu sosial yang lain. Isu buruh tidak menjadi isu bersama dengan elemen-elemen yang lain misalnya dari petani, nelayan, kaum miskin kota atau mahasiswa. Ahirnya permasalah buruh hanya terdengar dalam satu pabrik saja.

Sedangkan hak politik buruh selama ini masih dipegang elit-elit pengurus serikat. Anggota hanya menjadi penonton “permainan”, hak suaranya hanya sebatas mendapat pelayanan penangan jika terkena kasus industrial. Kesadaran bahwa anggota memiliki peran yang sangat strategis dalam mengambil kebijakan-kebijakan dan perjuangan belum begitu optimal. Tidak ada rasa kebersamaan inilah yang menjadi kaum buruh termarjinalkan dalam struktur hubungan industrial. Tidak ada kata sebanding dan sedrajat antara buruh, pengusaha dan pemerintah. Kebijakan yang munculpun tidak bisa mengakomodasi dari tiga unsur kepentingan ini.

Peran Serikat

Serikat sebagai wakil dari buruh memegang peran yang sangat penting, baik perannya dengan anggota sendiri, pemerintah maupun ke pengusaha. Ada beberapa hal menarik menyangkut serikat buruh, dilihat dari segi organisasinya ataupun dari perjuangannya. Organisasi Serikat buruh pada waktu perjuangan melawan penjajahan, serikat buruh menjadi bagian dari salah satu alat untuk melawan penjajahan. Di Indonesia boleh dikatakan organisasi-organisasi buruhlah yang menggerakkan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial, bersama-sama gerakan massa lainnya seperti Sarekat Islam, Indische Party, dan Insulinde. Maka sejarahnya tidak dapat dipisahkan dengan sejarah pergerakan Indonesia.

Sampai pada munculnya Orde Baru, perjalanan serikat hanya menjadi pengontrol bagi buruh sendiri, dan cenderung menjadi “milik” pemerintah. Saat setela adanya reformasi, tumbuhnya serikat buruh makin banyak dan tidak dapat di hitung. Banyak sekali serikat baru bermunculan, baik yang memang berasal dari inisiatif dari kaum buruh sendiri sampai dari Ormas.

Tapi dari banyaknya organisasi serikat yang muncul, ternyata tidak menambah kesejahteraan buruh, dan cenderung menyebabkan perpecahan di gerakan buruh sendiri. Potensi fragmentasi pada buruh ini tercermin dengan di sahkannya UU. No. 21/2000, utamanya pada pasal 5 undang-undang tersebut yang menyatakan “Serikat pekerja/buruh dibentuk oleh sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) orang pekerja/buruh”.

Ditambah lagi adanya serikat yang hanya menjadi legalitas dari pengusaha, dan paratai politik tertentu. Dengan berbasis massa buruh yang ribuan dapat dipastikan akan menarik perhatian partai politik dalam mendapat suara. Dan sangat rentan bagi serikat buruh untuk terjebak dalam kepentingan politik partai tertentu, ahirnya melupakan tujuan dari perjuangan serikat itu sendiri. Karena tidak menutup kemungkinan buruh akan ditinggalkan kembali setelah tujuan kekuasaan itu tercapai.

Reorientasi Perjuangan

Hannah Arendt (1906-1975), merefleksikan bagaimana manusia sebagai pekerja, pencipta karya, dan pelaku politik, dalam bukunya "The Human Condition" (1959). Ia menggunakan istilah ”vita activa” kehidupan yang aktif dalam upayanya menganalisa kondisi kemanusiaan modern. Melalui tindakan, dan sebagai pencipta dari tatanan dunia ini, manusia menciptakan sesuatu yang baru yang dapat mengungkapkan kebebasannya. Tindakan manusia adalah ‘kelahirannya kembali.’ Tindakan bersifat politis yang melibatkan upaya bersama.

Tindakan adalah sebuah laku komunikasi antar manusia yang mengandaikan kemajemukan sebagai aktisitas hidupnya. Kerja, karya, serta tindakan ini serentak dilakukan oleh setiap manusia. Menjadi buruh atau pekerja, pencipta karya, dan pelaku politik adalah kodrat manusia. Karena pencapaian manusia ada pada kehidupannya yang aktif, peradaban manusia ditentukan terutama oleh vita activa ini.

Untuk itu, pertama-tama kaum buruh harus mempunyai alat politik, yaitu organisasi yang independen. Independen di sini berarti independen terhadap kooptasi negara dan independen terhadap subordinasi pemilik modal. Organisasi yang dikontrol negara dan pengusaha, jelas tidak akan mampu menjadi alat untuk memperjuangkan kepentingan buruh. Masuk ke organisasi yang seperti itu, berarti buruh sudah di bawah kontrol negara. Sedangkan negara sendiri sudah dikontrol para oleh pemilik modal.

Pelemahan serikat buruh baik dari internalnya maupun ekternal, akan membuat buruh harus kehilangan kesejahteraannya. Selain tidak mampu mempengaruhi kebijakan-kebijakan Negara, buruh juga tidak mampu memaksa pemerintah untuk mengawasi pelaksanaan aturan yang ada, seperti ketentuan tentang pengawasan perburuhan yang seharusnya dilakukan pemerintah terhadap pelanggaran UU perburuhan. Ketiga, kekuatan buruh adalah adanya masa, dengan menggandeng seluruh buruh khususnya yang ada di basis pabrik merupakan kewajiban yang harus dilakukan karena dengan solidaritas ini lah buruh memiliki daya tawar diantara komponen negara, dan pengusaha.

Dan peringatan Mayday hanya akan menjadi sebatas seremonial belaka tanpa ada perubahan menuju pengakuan politik kaum buruh. Apakah akan terus kita langgengkan?.

Minggu, 04 Mei 2008

KETIKA ANDA SALAH TULIS


dunia tulis-menulis memang membutuhkan
dan ketika anda salah tulis, yang mengakibatkan anda prustasi maka langkah-langkah yang harus anda lakukan adalah:
1. anda harus segera memperbaikinya dan kalau masih salah
2. cari bantuan
3. tetap cari tahu mana yang salah
4. dan jangan kau buang ke tempat sampah
5. ganti dengan yang benar dong.
6. jangan merasa bodoh.
7. makilah semaumu.
8. jangan maki aku
9. selamat menikmati